al-Mubarok

Untaian Nasihat Ulama (7)

Bagian 7.
Bahaya Syirik

Berhala di dalam Hati

Syaikh Abdullah bin Shalih al-‘Ubailan hafizhahullah mengatakan, “Ketahuilah, bahwa tauhid dan mengikuti hawa nafsu adalah dua hal yang bertentangan. Hawa nafsu itu adalah berhala, dan setiap hamba memiliki ‘berhala’ di dalam hatinya sesuai dengan kadar hawa nafsunya. Sesungguhnya Allah mengutus para rasul-Nya dalam rangka menghancurkan berhala dan supaya -manusia- beribadah kepada Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Bukanlah maksud Allah subhanahu adalah hancurnya berhala secara fisik sementara ‘berhala’ di dalam hati dibiarkan. Akan tetapi yang dimaksud ialah menghancurkannya mulai dari dalam hati, bahkan inilah yang paling pertama tercakup.” (lihat Al-Ishbah fi Bayani Manhajis Salaf fi At-Tarbiyah wa Al-Ishlah, hal. 41)

Menghamba Kepada Hawa Nafsu

Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali rahimahullah berkata, “Patut dimengerti, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah melainkan dia pasti memiliki kecondongan beribadah kepada selain Allah. Mungkin orang itu tidak tampak memuja patung atau berhala. Tidak tampak memuja matahari dan bulan. Akan tetapi, dia menyembah hawa nafsu yang menjajah hatinya sehingga memalingkan dirinya dari beribadah kepada Allah.” (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 147)

Hawa Nafsu dan Kebinasaan

as-Sari as-Saqathi rahimahullah berkata, “Tidaklah seorang mencapai kesempurnaan sampai dia lebih mengutamakan agamanya di atas syahwat/keinginan nafsunya. Dan tidaklah seorang itu akan binasa kecuali apabila dia telah lebih mengutamakan syahwatnya daripada agamanya.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 472)

Sumber Munculnya Dosa

Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Barrak hafizhahullah menjelaskan, “Mengikuti hawa nafsu adalah sumber munculnya dosa-dosa, dosa yang besar maupun yang kecil. Oleh sebab itu di dalam al-Qur’an terdapat penyebutan hawa nafsu sebagai ilah/sesembahan. Dan disebutkan bahwa sebagian manusia ada yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah/sesembahan. Artinya dia menjadikan sesembahannya adalah hawa nafsunya. Maka barangsiapa yang keadaannya telah mencapai tindakan menghalalkan segala yang diinginkan oleh hawa nafsunya dan meninggalkan segala hal yang tidak diinginkan oleh hawa nafsunya secara mutlak, maka dengan sebab ini orang itu menjadi keluar dari Islam…” (lihat Syarh Risalah Kalimatil Ikhlas, hal. 73)

Takut Terhadap Syirik

Syaikh Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Syirik adalah perkara yang semestinya paling dikhawatirkan menimpa pada seorang hamba. Karena sebagian bentuk syirik itu adalah berupa amalan-amalan hati, yang tidak bisa diketahui oleh setiap orang. Tidak ada yang mengetahui secara persis akan hal itu kecuali Allah semata. Sebagian syirik itu muncul di dalam hati. Bisa berupa rasa takut, atau rasa harap. Atau berupa inabah/mengembalikan urusan kepada selain Allah jalla wa ‘ala. Atau berupa tawakal kepada selain Allah. Atau mungkin dalam bentuk ketergantungan hati kepada selain Allah. Atau karena amal-amal yang dilakukannya termasuk dalam kemunafikan atau riya’. Ini semuanya tidak bisa diketahui secara persis kecuali oleh Allah semata. Oleh sebab itu rasa takut terhadapnya harus lebih besar daripada dosa-dosa yang lainnya…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Syaikh Shalih as-Suhaimi, hal. 6)

Syirik Merusak Ibadah

Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah berkata, “Syirik dalam ibadah seperti racun di dalam makanan. Apabila diletakkan racun dalam bagian suatu makanan maka akan merusak semua makanan itu. Dan siapakah orang yang mau menerima makanan yang di dalamnya dicampuri dengan racun? Racun itu akan menyebar ke dalam makanan dan merusak semua bagian makanan.” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, hal. 21)

Kemaksiatan Terbesar

Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Kezaliman terbesar adalah syirik kepada Allah. Allah berfirman (yang artinya), “[Luqman berkata] Wahai putraku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (Luqman : 13). Perbuatan zalim itu adalah meletakkan sesuatu tidak pada tempat yang seharusnya. Dan kezaliman yang paling besar dan paling keji adalah syirik kepada Allah ‘azza wa jalla. Seperti halnya orang yang menengadahkan tangannya kepada para penghuni kubur dan meminta kepada mereka agar dipenuhi kebutuhan-kebutuhannya dan dihilangkan berbagai kesulitan yang menghimpit mereka. Maka tidaklah Allah didurhakai dengan suatu bentuk maksiat yang lebih besar daripada dosa kesyirikan.” (lihat Syarh Tsalatsah al-Ushul oleh beliau, hal. 14)

Kezaliman Terburuk

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Mengapa syirik disebut sebagai kezaliman? Karena pada asalnya zalim itu adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Sedangkan syirik maknanya adalah meletakkan ibadah bukan pada tempatnya, dan ini adalah sebesar-besar kezaliman. Karena mereka telah meletakkan ibadah pada sesuatu yang bukan berhak menerimanya. Dan mereka menyerahkan ibadah itu kepada yang tidak berhak mendapatkannya. Mereka menyamakan makhluk dengan Sang pencipta. Mereka mensejajarkan sesuatu yang lemah dengan Dzat yang Maha kuat yang tidak terkalahkan oleh sesuatu apapun. Apakah setelah tindakan semacam ini masih ada kezaliman lain yang lebih besar?” (lihat I’anatul Mustafid, 1/77)

Sumber Krisis dan Malapetaka

Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah berkata, “Maka perhatikanlah, syirik adalah perkara yang sangat berbahaya. Jangan kalian kira bahwa ini adalah perkara yang sepele. Sebagian orang ada yang mengatakan, ‘Kaum muslimin pada saat ini mengalami krisis dan keterpurukan dimana-mana, sedangkan kalian terus membicarakan masalah syirik’. Demi Allah, sumber keterpurukan yang menimpa mereka adalah syirik, bid’ah, khurafat, dan jauhnya mereka dari Allah. Penyebab krisis dan masalah yang menimpa mereka adalah perbuatan melampaui batas dan menyepelekan yang terjadi diantara mereka…” (lihat Syarh Qawa’id Arba’ Syaikh as-Suhaimi, hal. 7)

Hakikat Syirik

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Lawan dari tauhid adalah syirik kepada Allah ‘azza wa jalla. Maka tauhid itu adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Adapun syirik adalah memalingkan salah satu bentuk ibadah kepada selain Allah ‘azza wa jalla, seperti menyembelih, bernadzar, berdoa, istighatsah, dan jenis-jenis ibadah yang lainnya. Inilah yang disebut dengan syirik. Syirik yang dimaksud di sini adalah syirik dalam hal uluhiyah, adapun syirik dalam hal rububiyah maka secara umum hal ini tidak ada/tidak terjadi.” (lihat Syarh Ushul Sittah, hal. 11)

————-

Alhamdulillah sementara ini sudah terkumpul donasi Graha al-Mubarok sebesar Rp.213 juta. Masih terbuka kesempatan untuk berdonasi. Semoga Allah memberikan balasan terbaik bagi segenap donatur.

Info lebih lengkap silahkan buka di sini [klik]


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com dikelola oleh Ari Wahyudi; pengajar nahwu-shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok - Yayasan Pangeran Diponegoro (YAPADI). Dalam mengurus website ini alhamdulillah kami banyak dibantu oleh teman-teman relawan dan pegiat dakwah Masjid Jami' al-Mubarok (MJM) YAPADI Yogyakarta

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Donasi Peduli Wabah

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI