Adab-Adab Penimba Ilmu. Bagian 1

100234_rajaampat

 

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan utusan-Nya, demikian pula kepada kepada segenap sahabatnya. Amma ba’du.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dalam buku beliau Kitab Al-‘Ilmi menyebutkan adab-adab bagi penimba ilmu, diantaranya adalah :

Pertama; mengikhlaskan niat. Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menimba ilmu yang semestinya adalah dalam rangka mencari wajah Allah ‘azza wa jalla, akan tetapi dia tidaklah mempelajarinya selain untuk mendapatkan materi/ambisi dunia maka dia tidak akan mencium harumnya surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad dll)

Kedua; menghilangkan kebodohan dari diri sendiri dan juga orang lain. Imam Ahmad rahimahullah pernah berkata, “Ilmu tidak bisa ditandingi oleh apapun. Yaitu bagi orang yang lurus niatnya.” Orang-orang bertanya, “Bagaimana lurusnya niat itu?”. Beliau menjawab, “Dia berniat untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan orang lain.”

Ketiga; berniat untuk membela syari’at. Membela syari’at ini tidak mungkin bisa dilakukan kecuali dengan pembela-pembelanya, sebagaimana halnya senjata tidak ada fungsinya jika tidak ada orang yang bisa menggunakannya. Terlebih lagi pada saat ini dimana kebid’ahan hari demi hari terus bermunculan dalam bentuk yang baru, maka dibutuhkan para ulama yang membantah dan menumpas tipu daya dan makar-makar musuh Allah.

Keempat; berlapang dada dalam perkara khilaf/perbedaan pendapat. Yang dimaksud di sini adalah perbedaan yang masih membuka ruang bagi pendapat/ijtihad ulama, bukan dalam masalah-masalah akidah yang menyimpang dari jalan salafus shalih. Wajib bagai penimba ilmu untuk tetap menjalin ukhuwah walaupun berbeda pandangan pada sebagian perkara cabang dalam urusan agama.

Kelima; mengamalkan ilmu. Mengamalkan ilmu ini mencakup perkara akidah, akhlak, ibadah, adab, dan muamalah. Karena amal merupakan buah dari ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Al-Qur’an adalah hujjah/bukti untuk membelamu atau memusuhimu.” (HR. Muslim). Ia akan membela anda jika anda mengamalkannya, dan akan berubah memusuhi dan menjatuhkan anda apabila anda tidak mengamalkan ajarannya.

Keenam; berdakwah ila Allah. Yaitu dengan mengajarkan dan menyebarkan ilmu yang telah dia miliki dalam berbagai kesempatan dan keadaan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah mendapatkan wahyu maka beliau tidak tinggal diam di rumahnya, akan tetapi beliau berdakwah mengajak manusia dan melakukan gerakan perubahan.

Ketujuh; memilik sifat hikmah. Hendaknya penimba ilmu berbicara kepada manusia sesuai dengan kondisi dan latar belakang mereka. Hikmah adalah dengan menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya. Diantara makna hikmah ini ialah dengan memilih metode-metode yang lebih mudah untuk diterima, yaitu dengan cara-cara yang lembut dan bijak. Sebagian da’i di masa kini terlalu mudah terbakar semangatnya sehingga membuat orang lari darinya karena sikapnya yang berlebihan. Oleh sebab itu hendaklah kita melihat pelaku penyimpangan dari dua sisi; dari sisi syari’at dan dari sisi takdir. Dari sisi syari’at kita menerapkan hukum/aturan agama sesuai ketetapan Allah, dan dari sisi takdir kita pun merasa kasihan terhadap mereka.

Bersambung insya Allah.

10862621_401659323335656_1229646825556054421_o

 


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com untuk sementara ini dikelola oleh Ari Wahyudi, seorang pengajar nahwu dan shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok

LEAVE A REPLY

    Pencarian

    Bangun Masjid!

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI