Ikhlas dan Taubat

nasiha_250562928

Keterangan : Diringkas dari Riyadhus Shalihin dengan Disertai Tambahan Faidah

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dengan hanif, dan supaya mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah : 5)

Dari Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan diberi balasan sesuai dengan niatnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berperang karena untuk meninggikan kalimat Allah maka dia itulah orang yang berjihad fi sabilillah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bertaubatlah kalian semua wahai orang-orang beriman, mudah-mudahan kalian beruntung.” (An-Nur : 31)

Dari Al-Aghar bin Yasar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mintalah ampunan kepada-Nya. Karena sesungguhnya aku sendiri bertaubat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum berada di tenggorokan.” (HR. Tirmidzi, hadits hasan)

Faidah Tentang Ikhlas

Diriwayatkan dari Rabi’ bin Anas rahimahullah, beliau berkata, “Tanda agama adalah ikhlas mengabdi kepada Allah. Dan tanda keilmuan adalah rasa takut kepada Allah.” (lihat Al-Ikhlas wa An-Niyah, Ibnu Abid Dun-ya, hal. 33)

Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyallahu’anhu berkata, “Sungguh apabila aku bisa mengetahui bahwa Allah menerima amalku walaupun sekecil anak semut, itu jauh lebih aku sukai daripada dunia dengan segala isinya. Karena Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah hanya akan menerima -amal- dari orang-orang yang bertakwa.” (Al-Ma’idah : 27).” (Al-Ikhlas wa An-Niyah, hal. 49)

Kaitan Antara Ikhlas Dengan Taubat

Imam Nawawi rahimahullah menyebutkan Bab Ikhlas kemudian diikuti dengan Bab Taubat. Apa yang beliau lakukan ini –wallahu a’lam– adalah dalam rangka mengikuti metode Al-Qur’an; dimana Allah seringkali menyandingkan perintah beristighfar setelah perintah bertauhid. Sebagaimana dalam firman Allah (yang artinya), “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah, dan mintalah ampunan untuk dosamu…” (Muhammad : 19)


Redaksi

Redaksi al-mubarok.com untuk sementara ini dikelola oleh Ari Wahyudi, seorang pengajar nahwu dan shorof untuk pemula di Perpustakaan al-Mubarok

LEAVE A REPLY

    E-Book Gratis

    Pencarian

    Bangun Masjid!

    Kategori Artikel

    Arsip Artikel

    Sejarah YAPADI