Urgensi Iman Kepada Hari Akhir

Iman kepada hari akhir adalah salah satu rukun iman. Dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “[Iman itu adalah] kamu beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman [1])

Beriman kepada hari akhir merupakan salah satu ciri orang yang beruntung. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang beriman terhadap wahyu yang diturunkan kepadamu dan yang diturunkan kepada nabi sebelum kamu, dan terhadap hari akherat mereka pun meyakini. Mereka itulah yang berada di atas petunjuk dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. al-Baqarah: 4-5)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap jiwa pasti akan merasakan mati. Dan sesungguhnya balasan atas kalian akan disempurnakan kelak pada hari kiamat. Barangsiapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh dia telah beruntung. Tidaklah kehidupan dunia itu melainkan kesenangan yang menipu.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; Sesungguhnya kematian yang kalian berusaha lari darinya itu pasti akan menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui perkara ghaib maupun perkara yang tampak lalu Allah akan mengabarkan kepada kalian apa saja yang telah kalian kerjakan -di dunia-.” (QS. al-Jumu’ah: 8)

Iman kepada hari akhir merupakan cambuk yang akan melecut semangat seorang hamba agar memiliki pandangan jauh ke depan dan tidak terlena oleh kehidupan yang sementara di alam dunia. Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Jadilah kalian anak-anak akherat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah amal dan belum ada hisab, sedangkan besok yang ada adalah hisab dan tidak ada lagi waktu untuk beramal.” (HR. Bukhari secara mu’allaq dalam Kitab ar-Riqaq, lihat Shahih Bukhari cet. Maktabah al-Iman hal. 1307).

Dunia adalah tempat tinggal sementara, sedangkan akherat adalah tempat menetap yang sebenarnya. Allah ta’ala menceritakan ajakan seorang da’i kepada kaumnya (yang artinya), “Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akherat itulah tempat menetap yang sebenarnya.” (QS. Ghafir: 38-39).

Akan tetapi betapa banyak orang yang terlena dan tertipu oleh kesenangan yang sementara itu. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akherat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 16-17).

Hidup di dunia bukanlah untuk mempertuhankan harta, jabatan, atau segala macam perhiasan dunia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia serta perhiasannya maka Kami akan sempurnakan bagi mereka balasan atas amal-amal mereka di dunia itu dalam keadaan mereka tidak dirugikan sama sekali. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan balasan apa-apa di akherat kecuali neraka, lenyaplah sudah apa yang dahulu mereka perbuat di sana, dan sia-sia amal yang dahulu mereka lakukan.” (QS. Hud: 15)

Dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti layaknya orang yang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan.” (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq [6416]).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ada dua buah nikmat yang kebanyakan orang terperdaya karenanya; yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari dalam Kitab ar-Riqaq [6412])

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Keberuntungan paling besar di dunia ini adalah kamu menyibukkan dirimu di sepanjang waktu dengan perkara-perkara yang lebih utama dan lebih bermanfaat untukmu kelak di hari akherat. Bagaimana mungkin dianggap berakal, seseorang yang menjual surga demi mendapatkan kesenangan sesaat? Orang yang benar-benar mengerti hakekat hidup ini akan keluar dari alam dunia dalam keadaan belum bisa menuntaskan dua urusan; menangisi dirinya sendiri -akibat menuruti hawa nafsu tanpa kendali- dan menunaikan kewajiban untuk memuji Rabbnya. Apabila kamu merasa takut kepada makhluk maka kamu akan merasa gelisah karena keberadaannya dan menghindar darinya. Adapun Rabb (Allah) ta’ala, apabila kamu takut kepada-Nya niscaya kamu akan merasa tentram karena dekat dengan-Nya dan berusaha untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.” (lihat al-Fawa’id, hal. 34)

Iman kepada hari akhir juga menjadi motivasi bagi setiap hamba dalam menggapai kebahagiaan sebenarnya di sisi Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia dari Allah, Allah memberikannya kepada siapa pun yang dikehendaki oleh-Nya. Allah adalah pemilik karunia yang sangat agung.” (QS. al-Hadid: 21).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang masuk surga maka dia akan selalu senang dan tidak akan merasa susah. Pakaiannya tidak akan usang dan kepemudaannya tidak akan habis.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Jannah wa Shifatu Na’imiha wa Ahliha [2836]).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Aku telah menyediakan untuk hamba-hamba-Ku yang salih kesenangan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbersit dalam hati manusia.” (HR. Bukhari dalam Kitab Bad’u al-Khalq [3244] dan Muslim dalam Kitab al-Jannah wa Shifatu Na’imiha wa Ahliha [2824])

Iman kepada hari akhir juga mengingatkan setiap muslim tentang pentingnya tauhid dalam kehidupannya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah berkata kepada penghuni neraka yang paling ringan siksaannya, ‘Seandainya kamu memiliki kekayaan seluruh isi bumi ini apakah kamu mau menebus siksa dengannya?’. Dia menjawab, ‘Iya.’ Allah berfirman, ‘Sungguh Aku telah meminta kepadamu sesuatu yang lebih ringan daripada hal itu tatkala kamu berada di tulang sulbi Adam agar kamu tidak mempersekutukan-Ku, akan tetapi kamu enggan melainkan bersikukuh untuk berbuat syirik.’.” (HR. Bukhari dalam Kitab Ahadits al-Anbiya’ [3334] dan Muslim dalam Kitab Shifat al-Qiyamah wal Jannah wa an-Naar [2805])

Iman kepada hari akhir juga menjadi pengingat bagi setiap mukmin untuk membersihkan hatinya dari kotoran dosa dan kekafiran. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu -hari kiamat- tidak bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’ara’: 88-89).

Abu Utsman an-Naisaburi rahimahullah menjelaskan tentang hakikat hati yang selamat, “Yaitu hati yang terbebas dari bid’ah dan tenteram dengan Sunnah.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [6/48] cet. Maktabah Taufiqiyah)

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Hati yang selamat itu adalah hati yang bersih dari syirik dan keragu-raguan serta terbebas dari kecintaan kepada keburukan/dosa atau perilaku terus menerus berkubang dalam kebid’ahan dan dosa-dosa. Karena hati itu bersih dari apa-apa yang disebutkan tadi, maka konsekuensinya adalah ia menjadi hati yang diwarnai dengan lawan-lawannya yaitu; keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kepada kebaikan serta dihiasinya -tampak indah- kebaikan itu di dalam hatinya. Sehingga keinginan dan rasa cintanya akan senantiasa mengikuti kecintaan Allah, dan hawa nafsunya akan tunduk patuh mengikuti apa yang datang dari Allah.” (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman hal. 593 cet. ar-Risalah)

Mau Lari Kemana?

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah; sesungguhnya kematian yang kalian berusaha lari darinya, maka ia pasti menjumpai kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Dzat yang mengetahui segala perkara gaib dan yang nyata, lalu Dia akan mengabarkan kepada kalian tentang apa-apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah : 8)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran : 185)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sebagian orang akan masuk ke dalam surga, dan sebagian yang lain akan masuk ke dalam neraka.” (QS. Asy-Syura : 7)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk : 2)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Tidak ada waktu istirahat bagi seorang mukmin sebelum dia berjumpa dengan Allah.”

Seorang penyair mengatakan :

Kematian adalah pintu, dan semua orang pasti memasuki
Aduhai, seandainya aku tahu tempat seperti apakah setelah kematian itu?

Tempat di surga, jika kamu beramal dengan apa-apa
Yang bisa membuat ridha ilahi, tetapi jika kamu teledor, neraka lah tempatnya

Tsabit al-Bunani rahimahullah berkata, “Beruntunglah orang yang banyak mengingat kematian. Tidaklah seorang hamba memperbanyak ingat mati kecuali pasti tampak pada amal perbuatannya.”

‘Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhu berkata, “Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat, keyakinan menjadi penopang rasa berkecukupan, dan cukuplah ibadah menjadi perkara yang membuat diri penuh dengan kesibukan.”

al-Harits bin Idris pernah berkata : Aku bertanya kepada Dawud ath-Tha’i, “Berikanlah nasihat untukku.” Beliau menjawab, “Barisan tentara kematian senantiasa menunggu kedatanganmu.”

Abud Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Aku menyukai kefakiran sebagai bentuk perendahan diri kepada Rabbku, aku pun mencintai kematian karena rindu bertemu Rabbku, dan aku menyukai sakit karena ia menghapus dosa-dosaku.”

Hasan al-Bashri rahimahullah ditanya, “Wahai Abu Sa’id, bagaimanakah menurutmu keadaan dirimu?” Beliau menjawab, “Seperti keadaan orang yang di waktu sore menantikan datangnya kematian, dan apabila tiba waktu pagi maka dia tidak tahu apakah masih bisa bertemu waktu sore, dan bagaimanakah kiranya dia mati?”

Mutharrif bin Abdillah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kematian ini telah menghancurkan kenikmatan para pemuja kenikmatan, oleh sebab itu carilah suatu kenikmatan yang tiada kematian padanya.”

Seorang bijak berkata kepada temannya, “Wahai saudaraku, takutlah akan kematian di dunia ini sebelum kamu tiba pada suatu tempat dimana kamu mengangankan kematian dan kamu tidak akan bisa menemukannya.”

Ibnu Abdi Rabbihi berkata kepada Mak-hul, “Apakah kamu menyukai surga?” Beliau menjawab, “Siapakah orang yang tidak cinta surga.” Kemudian Ibnu Abdi Rabbihi mengatakan, “Kalau begitu, cintailah kematian. Karena tidaklah kamu akan bisa melihat surga kecuali setelah kamu mengalami kematian.”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan hendaknya setiap diri melihat apa yang sudah dia siapkan untuk hari esok/akhirat. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa saja yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Hasyr : 18)

Sumber : Aina Nahnu Min Haa’ulaa’i, Jilid 1 karya Syaikh Abdul Malik al-Qasim

One thought on “Urgensi Iman Kepada Hari Akhir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *