Memberikan Nasihat Kepada Orang-Orang Berilmu

nasiha_250562928

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

Diantara kelompok pemimpin kaum muslimin yang paling agung adalah para ulama. Bersikap nasihat [menginginkan kebaikan] kepada ulama kaum muslimin adalah dengan cara menyebarkan kebaikan-kebaikan mereka. Menahan diri dari keburukan-keburukan mereka. Bersemangat agar mereka bisa menepati kebenaran dengan sebenar-benarnya.

Hal itu bisa diwujudkan dengan cara memberikan masukan kepada mereka apabila mereka tersalah dan hendaknya kesalahan itu diterangkan kepada mereka melalui cara-cara yang tidak merusak kehormatan dan harga diri mereka. Karena menyalahkan ulama dengan cara yang mengesankan perendahan terhadap kedudukan mereka justru akan menimbulkan madharat bagi kaum muslimin secara umum.

Karena orang-orang awam apabila melihat para ulama [baca; orang-orang berilmu] diantara mereka saling menyesatkan satu sama lain niscaya kedudukan mereka [para ulama itu] akan jatuh dalam pandangan mereka [orang awam]. Mereka akan berkomentar; mereka semua itu bisa menolak dan bisa ditolak pendapatnya, maka kita tidak tahu -secara pasti- siapakah sebenarnya diantara mereka yang berada di atas kebenaran!

Akhirnya, mereka pun tidak mau mengambil pendapat setiap orang dari mereka -yang berselisih itu-. Akan tetapi tentu saja berbeda keadaannya jika para ulama itu saling menghormati satu sama lain, kemudian masing-masing dari mereka berupaya untuk memberikan masukan dan arahan kepada saudaranya secara sembunyi-sembunyi apabila saudaranya tersalah dan dia menampakkan kepada orang-orang mengenai pendapat yang benar -tentang masalah tersebut, pent- maka sesungguhnya cara semacam ini termasuk bentuk nasihat yang paling agung kepada para ulama kaum muslimin.

[lihat Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyah, Jilid 2 hal. 343]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata:

Perkara yang keempat diantara bentuk nasihat kepada para ulama adalah; apabila anda melihat ada suatu kesalahan pada diri mereka janganlah anda diam seraya mengatakan, ‘Orang ini tentu lebih berilmu daripada saya’ akan tetapi hendaknya anda berdiskusi dengannya dengan penuh sopan santun dan penghormatan.

Karena bisa jadi terkadang tersamar bagi seseorang [‘alim] dalam suatu permasalahan. Oleh sebab itu orang-orang yang berada di bawah kedudukannya dalam hal ilmu mengingatkan beliau, yang dengan sebab itu beliau pun akan tersadar dari kekeliruannya. Hal semacam ini termasuk bentuk nasihat [yang benar] terhadap para ulama.

[lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hal. 119]

Tidak Boleh Fanatik Buta

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya:

Apa hukum orang yang mencintai seorang alim/ulama atau da’i lalu dia mengatakan, ‘Sesungguhnya aku sangat mencintai beliau. Aku tidak senang mendengar siapa pun yang melontarkan bantahan kepadanya. Aku akan selalu mengambil pendapat/ucapan-ucapannya; meskipun bertentangan dengan dalil. Karena syaikh ini tentu lebih mengetahui dalil daripada kita’?

Beliau menjawab:

Ini adalah ta’ashshub/sikap fanatik yang dimurkai dan tercela. Ini perbuatan yang tidak diperbolehkan. Kita mencintai para ulama tentu saja -segala puji bagi Allah- kita juga mencintai pada da’i yang berjalan di atas jalan Allah ‘azza wa jalla.

Akan tetapi apabila salah seorang dari mereka melakukan suatu kekeliruan dalam suatu masalah, maka semestinya kita menjelaskan yang benar dalam hal itu dengan landasan dalil. Dan hal itu tidaklah menyebabkan berkurangnya rasa cinta kita kepada orang yang dibantah dan tidak pula merendahkan kedudukan beliau.

Imam Malik rahimahullah mengatakan, “Tidaklah ada seorang pun diantara kita ini melainkan bisa menolak dan bisa ditolak pendapatnya. Kecuali orang yang menghuni kubur ini.” Yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apabila suatu saat kami membantah sebagian ulama dan sebagian orang yang memiliki keutamaan/tokoh agama. Bukanlah itu artinya kami membenci atau merendahkan kedudukan beliau. Hanya saja kami punya kewajiban untuk menerangkan kebenaran. Oleh sebab itu, sebagian ulama berkata ketika ada sebagian sahabatnya yang melakukan suatu kekeliruan, “Si Fulan adalah orang yang kami cintai. Meskipun demikian, kebenaran jauh lebih kami cintai daripada beliau.” Inilah metode yang benar.

Janganlah kalian memahami dari adanya bantahan kepada sebagian ulama dalam suatu permasalahan yang dia keliru padanya kemudian dimaknakan sebagai bentuk perendahan kepada dirinya atau suatu kebencian. Bahkan, para ulama sejak dahulu senantiasa memberikan bantahan/kritikan satu sama lain, sementara mereka tetap dalam keadaan menjalin persaudaraan dan saling mencintai satu sama lain.

Kita tidak boleh mengambil dengan serta merta semua pendapat yang dilontarkan oleh seseorang tanpa pertimbangan apapun, baik dia dalam kebenaran atau kesalahan. Sebab ini adalah tindakan fanatisme/ta’ashshub. Orang yang harus diambil semua ucapannya dan tidak boleh ditinggalkan sedikit pun darinya hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena beliau adalah orang yang menyampaikan wahyu dari Rabbnya. Beliau tidak pernah berbicara dari hawa nafsunya sendiri. Adapun selain beliau, maka mereka bisa salah dan bisa juga benar. Walaupun mereka itu adalah termasuk jajaran manusia yang paling utama. Mereka -para ulama- itu adalah mujtahid; yang bisa benar tapi juga bisa salah.

Tidak ada seorang pun yang terjaga dari kesalahan kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang harus kita pahami. Kita tidak boleh berupaya menyembunyikan kesalahan hanya gara-gara rasa segan kita kepada si fulan misalnya, bahkan seharusnya kita terangkan kesalahan itu.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama ini adalah nasihat.” Kami -para sahabat- pun bertanya, “Untuk siapa?”. Beliau menjawab, “Untuk -beriman- kepada Allah, kepada Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan nasihat bagi para pemimpin kaum muslimin serta orang-orang biasa diantara mereka.” (HR. Muslim)

Menerangkan kekeliruan adalah termasuk bentuk nasihat bagi semua orang. Adapun menyembunyikan kekeliruan maka ini adalah tindakan yang bertentangan dengan nasihat.

[lihat Ajwibah al-Mufidah ‘an As’ilah al-Manahij al-Jadidah, hal. 163-164]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *