Kebutuhan Kita Untuk Belajar Tauhid

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah atas curahan nikmat dan petunjuk yang Allah berikan kepada kita. Salawat dan salam semoga terlimpah kepada panutan kita Nabi Muhammad, para sahabat, dan segenap pengikut setia mereka.

Amma ba’du.

Menjadi seorang muslim adalah sebuah kemuliaan dan kebahagiaan. Karena, dengan Islam seorang hamba akan bisa mewujudkan tujuan hidupnya, dan dengan Islam pula seorang hamba akan bahagia di dunia dan di akhirat.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam menetapi kesabaran.” (QS. al-‘Ashr : 1-3)

Kehidupan yang kita jalani selama ini tentu memiliki arti dan tujuan. Bukan semata-mata denyutan jantung, helaan nafas, atau aliran darah di dalam tubuh. Lebih daripada itu, kehidupan seorang muslim sarat dengan makna dan faidah. Karena hidup bagi seorang muslim adalah kesempatan emas untuk mencetak pahala dan mengejar surga.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “[Allah] Yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian; siapakah diantara kalian yang terbaik amalnya.” (QS. Al-Mulk : 2)

Orang yang terbaik amalnya, sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama, adalah orang yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan ungkapan lain, kita katakan bahwa orang yang terbaik amalnya adalah yang paling bersih dari syirik dan bid’ah.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu -kiamat- tidaklah bermanfaat harta dan tidak pula keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’araa’ : 88-89)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan riwayat dari Abu ‘Utsman an-Naisaburi rahimahullah bahwa beliau menafsirkan ‘hati yang selamat’ sebagai hati yang bersih dari bid’ah dan merasa tentram dengan Sunnah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menafsirkan bahwa hati yang selamat adalah yang terbebas dari cengkeraman syubhat dan syahwat. Karena syubhat merusak akidah dan ilmu, sementara syahwat merusak kehendak dan tekad.

Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan menimba ilmu sebagai jalan diantara jalan-jalan menuju surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu -agama- maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Karena dengan ilmu akan tersingkaplah kebodohan dan hawa nafsu. Dengan ilmu, bisa dibedakan antara hidayah dengan kesesatan, dengan ilmu bisa dipisahkan antara kebenaran dengan kebatilan, dengan ilmu akan dibedakan iman dan kekafiran.

Diantara sekian banyak ilmu, maka ilmu tentang tauhid adalah ilmu yang paling utama dan paling wajib untuk dimengerti. Karena tauhid menjadi pondasi agama islam. Tauhid juga merupakan syarat diterimanya segala amalan. Tauhid pula yang menjadi kunci untuk bisa masuk ke dalam surga dan lolos dari azab neraka. Oleh sebab itu dakwah segenap rasul tegak di atasnya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyerukan; sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl : 36)

Dari sinilah, mempelajari ilmu tauhid menjadi penting dan bahkan kebutuhan yang sangat mendesak. Ilmu tauhid inilah yang pertama-tama tercakup di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya maka Allah akan pahamkan dalam urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana hal itu juga ditunjukkan di dalam hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma yang mengisahkan pemberangkatan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu untuk menjalankan tugas dakwah ke negeri Yaman, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim, lafal Bukhari)

Setelah memperhatikan perkara-perkara ini semuanya, layaklah kiranya bagi kita untuk menyalakan api semangat menimba ilmu di dalam hati. Untuk menyimak ayat-ayat, hadits-hadits, dan mutiara hikmah para ulama; yang menjabarkan tentang hakikat tauhid dan cara-cara mengaplikasikan tauhid ini ke dalam hidup sehari-hari. Betapa butuhnya kita terhadap materi-materi dan nasihat-nasihat semacam ini.

[al-mubarok.com]

2 thoughts on “Kebutuhan Kita Untuk Belajar Tauhid

  • August 2, 2014 at 7:52 am
    Permalink

    Tidak ada sesuatu yang bisa membuat hati tenang kecuali dengan mengingat Allah

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah. Allah memfitrahkan hati-hati manusia bahwa tiada yang disukai dan diingini oleh hati yang bisa membuatnya tenang dan berakhir padanya kecuali Allah semata. Meskipun semua yang dia sukai baik berupa makanan, pakaian, hal yang indah dipandang, didengar, dan didengar ada, tapi dia akan mendapati hatinya mencari sesuatu yang lain dan menyukai satu perkara yang lainnya, yang dia bisa menghambakan diri, bisa bergantung padanya, merasa tenang kepadanya dan semisalnya.”

    Reply
  • August 2, 2014 at 7:53 am
    Permalink

    Orang jahil jika bicara hanya menambah fitnah

    Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Yang berhak membicarakan tentang masalah fitnah hanyalah ulama yang mempunyai bashirah … Jika yang orang-orang jahil berbicara tentang masalah fitnah, maka fitnah-fitnah itu akan bertambah.”

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *