Adalah Sebuah Kebahagiaan

photo.jpg

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, kenikmatan yang Allah berikan kepada kita sungguh tiada terhingga. Kenikmatan-kenikmatan yang sangat memberikan arti di dalam kehidupan kita. Meskipun demikian, kita dapati diri kita amat jauh dari kesungguhan dan keseriusan dalam bersyukur kepada-Nya. Kita sering lalai dari mensyukuri nikmat Allah.

Terkadang kita menyandarkan nikmat itu kepada diri kita, kemampuan kita, kecerdasan kita, keahlian kita, dan segala keunggulan yang menurut kita adalah kunci utama keberhasilan dan kesuksesan. Padahal, kita lupa bahwa ternyata Allah ta’ala berada di balik itu semua. Seolah-olah kita merasa bahwa penentu sukses adalah diri kita, padahal tidak demikian sejatinya.

Tidakkah kita ingat, salah satu bagian dari doa sayyidul istighfar yang diajarkan kepada kita, ‘abuu’u laka bi ni’matika ‘alayya, wa abuu’u bi dzanbii…’ artinya, “Aku mengakui kepada-Mu -ya Allah- dengan segala nikmat-Mu kepadaku, dan aku pun mengakui akan segala dosaku…” Dari ucapan inilah, para ulama mengatakan bahwa seorang hamba yang berjalan menuju Allah berada di antara dua keadaan; antara ‘musyaahadatul minnah’ -yaitu menyaksikan curahan nikmat- dan ‘muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal’ -yaitu mencermati aib-aib diri dan amalan-… Demikianlah seharusnya kita melihat diri dan amal kita.

Kita harus menyadari sepenuhnya, bahwa nikmat yang sampai saat ini kita peroleh semuanya berasal dari Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Dan apa pun yang ada pada kalian berupa nikmat itu adalah berasal dari Allah.” Hal ini menuntut kita untuk selalu mengingat Allah, karena Allah lah yang memberikan nikmat itu kepada kita.

Selain itu, kita juga harus menyadari bahwa diri dan perbuatan kita kerapkali tertimpa kekurangan atau cacat dan ketidakberesan. Kita kurang bisa berbakti kepada Allah dengan sebenarnya. Kita kurang bisa menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya. Kita kurang dalam merealisasikan syukur kepada-Nya. Kita memiliki banyak sekali kekurangan, yang semestinya membuat kita semakin merendah di hadapan Allah. Menyingkirkan keangkuhan dan kesombongan.

Marilah kita lihat bersama, keteladanan yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para salafus shalih. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, bahwa para sahabat adalah manusia yang terbaik hatinya diantara umat ini. Apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang pemilik hati paling mulia diantara manusia. Cobalah kita pelajari bagaimana bentuk ketawadhu’an beliau dalam kehidupan ini.

Kita tentu masih ingat, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi orang yang banyak sekali beristighfar dalam sehari, bisa sampai 70 bahkan 100 kali dalam sehari. Kita juga masih ingat, bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada sahabat terbaik -yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu– untuk berdoa ‘Allahumma inni zhalamtu nafsii zhulman katsiira, wa laa yaghfirudz dzunuuba illa anta, faghfirlii…’ artinya, “Ya Allah, sesungguhnya aku banyak sekali menzalimi diriku, dan tiada pengampun dosa selain Engkau, maka ampunilah aku…” Kita juga mengetahui, bahwa salah satu doa yang sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ‘Yaa Muqollibal quluub tsabbit qolbii ‘ala diinik…’ artinya, “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agamamu…”

0144-e1305580476288-600x289

Apabila kita cermati ini semuanya, dan kita melihat kepada kedudukan beliau sebagai nabi dan rasul terakhir, rasul terbaik diantara ulul ‘azmi, kekasih Allah, manusia yang diberikan oleh Allah keutamaan akhlak dan berbagai kemuliaan… Orang yang telah dijamin masuk surga dan diampuni dosanya… Namun lihatlah betapa beliau menunjukkan rasa butuh dan takutnya kepada Allah ta’ala. Beliau sangat jauh dari sifat sombong, sifat angkuh, sifat berbangga-bangga dan merasa hebat… Justru perilaku beliau menunjukkan betapa besar rasa takutnya kepada Allah jalla wa ‘ala

Inilah bukti kebenaran firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya orang yang merasa takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir). Para ulama adalah orang-orang yang berilmu dan memiliki rasa takut kepada Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu, “Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, akan tetapi ilmu adalah rasa takut -kepada Allah-.” Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Seorang mukmin memadukan antara ihsan/berbuat baik dengan rasa takut, adapun orang fajir/munafik memadukan antara berbuat buruk dengan perasaan aman.”

Kita juga tentu masih ingat bagaimana doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam untuk dijauhkan dari pemujaan patung, untuk keselamatan diri dan keturunannya. Padahal beliau lah orang yang berjuang mendakwahkan tauhid ini, beliau lah yang menghancurkan berhala dengan tangannya, beliau lah yang menasihati ayah dan kaumnya, beliau lah yang dijadikan sebagai teladan bagi kaum beriman di sepanjang jaman… Meskipun demikian rasa takut beliau kepada Allah dari terjerumus di dalam kesyirikan sangat-sangat besar. Mungkin jauh berbeda dengan kita, yang baru mengenal tauhid kemarin sore namun seolah dirinya sudah menempati singgasana pendekar tauhid dan jawara akidah…?!

Ibrahim at-Taimi rahimahullah mengatakan, “Lantas, siapakah yang bisa merasa aman dari bencana syirik setelah -Nabi- Ibrahim?” Kita sering merasa akidah kita sudah beres. Kita sering merasa bahwa tauhid kita tidak ada yang salah. Kita sering merasa bahwa iman kita tidak goyah dan tidaj bermasalah, padahal barangkali sifat dan perbuatan kita jauh dari keimanan dan lebih dekat kepada kemunafikan, wal ‘iyadzu billah…

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, oleh sebab itu berbahagialah anda, jika anda masih bisa duduk dalam majelis ilmu, menimba ilmu islam, mempelajari akidah dan tauhid dengan ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berbahagialah anda… sungguh berbahagia… Karena dengan itu anda sedang meniti salah satu jalan untuk menuju surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu -agama- maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Sebaliknya, kita harus bersedih dan prihatin, apabila kita dapati detak jantung kita, helaan nafas kita, ternyata jauh dari pancaran cahaya hidayah, jauh dari sinar ketakwaan dan tanda kekhusyu’an. Bertakwa di hadapan manusia, bertakwa di hadapan khalayak, namun mengarungi samudera maksiat tanpa henti di kala sunyi… Bukankah Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”

Thalq bin Habib rahimahullah berkata, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena berharap pahala dari Allah, dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut akan hukuman Allah.” Mungkin ada diantara kita yang sering atau kadang melakukan ketaatan, namun kita sering tidak menyertainya dengan harapan kepada pahala Allah. Mungkin ada diantara kita yang sering atau kadang meninggalkan maksiat, namun bukan karena takut kepada-Nya, namun karena takut kepada manusia…

Aduhai, betapa malangnya kita, jika kita telah menganggap kebaikan-kebaikan yang dilakukan orang lain sebagai keburukan kemudian kita menilai keburukan-keburukan kita sebagai kebaikan dan jasa… Mengapa kita tidak mau bercermin dan menilai kesalahan-kesalahan kita dan berusaha memperbaikinya? Mengapa kita sering berdalih bahwa kita telah berbuat, kita telah berjuang, kita telah berkorban, sehingga kita merasa kesalahan demi kesalahan yang pernah kita lakukan itu tidak akan membahayakan nasib kita di akhirat kelak di hadapan Allah ta’ala

31f2fe392bd66eb3e5a42ceff6daa4d1

Oleh sebab itu saudaraku -yang dimuliakan Allah dengan Islam dan Iman- menjadi kebutuhan bagi kita semuanya untuk selalu menilik ke dalam relung hati dan dasar nurani, tentang niat dan kehendak kita dalam beramal dan berucap… Sebagian salaf mengatakan bahwa ilmu kaum khalaf itu sedikit namun ucapan mereka banyak, sedangkan ilmu salaf itu banyak namun ucapan mereka sedikit… Wa aina nahnu min haa’ulaaa’i -dan dimanakah posisi kita apabila dibandingkan dengan mereka-?

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

NB : Mungkin anda bertanya, dimanakah letak kebahagiaan itu -sebagaimana disebutkan dalam judul tulisan ini-? Maka jawabannya, kebahagiaan adalah tatkala kita menyadari kita sangat membutuhkan Allah, kita harus merendah kepada Allah, kita harus banyak bertaubat, dan kita harus berusaha memperbaiki diri dengan lebih giat lagi… Allahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *