Selamatkan Dirimu!

images

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah.

Amma ba’du.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman! Selamatkanlah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka…”

Sebagaimana kita juga selalu berdoa, ‘Rabbanaa aatinaa fid dun-yaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar’ artinya, “Wahai Rabb kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari azab neraka.”

Sebagian ulama menafsirkan ‘kebaikan di dunia’ adalah ilmu dan ibadah, sedangkan ‘kebaikan di akhirat’ adalah surga.

Oleh sebab itu, pantas jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka mencari ilmu -agama- maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah pahamkan dia dalam urusan agama.” (HR. Bukkhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka takutlah kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, yang ia telah disiapkan bagi orang-orang kafir.”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang dibebaskan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga sungguh dia telah beruntung. Dan tidaklah kehidupan dunia ini melainkan perhiasan/kesenangan yang menipu.”

Jalan menuju neraka dikelilingi dengan hal-hal yang disukai oleh hawa nafsu manusia, sebaliknya jalan menuju surga diliputi perkara-perkara yang tidak disenangi oleh nafsu mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga diliputi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan neraka diliputi hal-hal yang menyenangkan nafsu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh sebab itu surga Allah berikan bagi mereka yang merasa takut kepada Allah dan mengendalikan hawa nafsunya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan adapun orang yang merasa takut akan kedudukan Rabbnya serta mengekang dari keinginan nafsunya maka surga lah tempat tinggalnya.”

Kesenangan surga dan keridhaan Allah, hanya diperuntukkan bagi mereka yang takut kepada Rabbnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal salih, mereka itulah sebaik-baik makhluk. Balasan bagi mereka di sisi Rabb mereka adalah surga-surga ‘adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah balasan bagi orang yang takut kepada Rabbnya.”

Oleh karena itu, Allah memuji para ulama karena rasa takut mereka kepada Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya adalah hanya para ulama.”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Bukanlah ilmu itu diukur dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakikat ilmu adalah rasa takut kepada Allah.”

Rasa takut kepada Allah inilah yang menjadikan kaum beriman menjauhi larangan-larangan Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Thalq bin Habib rahimahullah, “Takwa adalah kamu melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah, dengan kamu mengharap pahala dari Allah. Dan kamu meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah, dengan kamu merasa takut akan hukuman Allah.”

Inilah ketakwaan yang akan sampai kepada Allah, bukan daging atau darah, bukan tumpukan uang dan perasan keringat kita. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya dan tidak pula darah-darahnya -dari sembelihan kurban kalian-, akan tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari [hati] kalian.”

Oleh sebab itu, Allah jalla wa ‘ala berfirman (yang artinya), “Yang demikian itu, barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu muncul dari ketakwaan yang ada di dalam hati.”

Karena itu pula keselamatan di akhirat hanya diberikan kepada mereka yang membawa hati yang selamat. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari itu, tidaklah bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”

Hati orang beriman adalah hati yang selamat, karena ia diisi dengan rasa takut kepada Allah. Sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang yang jika disebutkan nama Allah maka merasa takutlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanannya, dan mereka hanya bertawakal kepada Rabb mereka.”

Hati orang beriman adalah hati yang selamat, karena ia bersih dari syirik dan kekafiran. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang akan diberikan keamanan dan mereka itulah yang layak diberikan hidayah.”

Hati orang beriman adalah hati yang selamat, karena ia tunduk kepada petunjuk Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya, bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.”

Oleh sebab itu, Allah mencela orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.”

Orang-orang yang beriman dan merasa takut kepada Allah, bagi mereka dua surga. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan bagi orang yang merasa takut akan kedudukan Rabbnya dua buah surga.”

Sebagian ulama mengatakan, “Sesungguhnya di dunia ini ada sebuah surga, barangsiapa yang tidak memasukinya maka dia tidak akan masuk ke surga di akhirat.” Yang dimaksud surga dunia adalah ma’rifatullah, merasa takut kepada-Nya, cinta kepada-Nya, dan beribadah ikhlas karena-Nya.

Malik bin Dinar rahimahullah berkata, “Sungguh malang nasib para pemuja dunia! Mereka keluar dari dunia dalam keadaan belum merasakan sesuatu yang paling nikmat di dalamnya.” Orang-orang pun bertanya, “Wahai Abu Yahya, apakan sesuatu yang paling nikmat di dunia?” Beliau menjawab, “Mengenal Allah ‘azza wa jalla.”

[al-mubarok.com]

Baca Juga :

> Kajian Tahsin al-Qur’an, Jogja

> Belajar Tauhid dan Bahasa Arab Jarak Jauh

> Belajar Baca Kitab Dari Nol, Jogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *