Beberapa Catatan Atas Pemikiran Ahmad Wahib

Indonesia-Damai-Tanpa-JIL

Ahmad Wahib, adalah salah seorang tokoh masa lalu yang menjadi penyebar pemikiran Islam Liberal di Indonesia. Tulisan-tulisannya menjadi ilham bagi sebagian pemuda yang terseret oleh arus kebebasan berpikir tanpa batas yang menjadikan Islam tak ubahnya sebagai medan perdebatan dan penuh keragu-raguan.

> Diantara perkataannya, “sesungguhnya orang yang mengaku ber-Tuhan tapi menolak berpikir bebas berarti menghina rasionalitas eksistensi adanya Tuhan.” Atau “Orang yang tidak mau berpikir bebas itu telah menyia-nyiakan hadiah Allah yang begitu berharga yaitu otak.” (lihat Pembaharuan Tanpa Apologia, hal. 9-10)

Kita katakan, bahwa berpikir bebas tanpa dibatasi oleh dalil-dalil syari’at, ini adalah salah satu metode Iblis la’natullah ‘alaihi dalam menolak perintah-perintah Allah. Bukankah, Iblis menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam dengan alasan, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah.”

Akibat dari kebebasan berpikir semacam itulah Iblis ‘enggan dan menyombongkan diri’ dari patuh kepada perintah Allah, dan karena itu pula Allah menggelarinya ‘wa kaana minal kaafiriin’ artinya, “Adalah Iblis itu termasuk golongan penganut kekafiran.”

Apabila kebebasan berpikir berarti memuliakan Allah tentu saja Allah tidak akan mengatakan Iblis sebagai makhluk yang sombong lagi kafir. Apabila kebebasan berpikir tanpa mengikuti kaidah al-Kitab dan as-Sunnah itu adalah ungkapan syukur kepada Allah, tentu Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengkafirkan kaum musyrikin yang mengatakan, “Tidaklah kami menyembah mereka -selain Allah- kecuali dalam rangka mendekatkan diri kami kepada Allah sedekat-dekatnya.”

> Ahmad Wahib juga mengatakan, “Dalam gereja mereka, Tuhan adalah pengasih dan sumber segala kasih. Sedang di masjid atau di langgar-langgar, dalam ucapan dai-dai kita, Tuhan tidak lebih mulia dari hantu yang menakutkan dengan neraka di tangan kanannya dan pecut di tangan kirinya.” (lihat Pembaharuan Tanpa Apologia, hal. 24)

Kita katakan, bahwa al-Qur’an, as-Sunnah, dan sejarah telah membuktikan kedustaan ucapan ini. Di dalam al-Qur’an, ayat pertama sebelum surat al-Fatihah -bahkan ada di awal setiap surat kecuali at-Taubah- kita selalu membaca ‘bismillahirrahmanirrahiim’ yang artinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Ayat ini jelas menunjukkan nama Allah ar-Rahman dan ar-Rahim; yang di dalamnya terkandung kasih sayang Allah yang maha luas, mencakup segala sesuatu.

Demikian pula di dalam hadits sahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada para sahabatnya ketika melihat ada seorang ibu yang begitu sayang kepada bayinya; yang dia kehilangan bayinya lalu setiap kali bertemu bayi maka dia pun segera menyusuinya, kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Allah sungguh lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada bayinya.”

Di dalam sejarah pun kita bisa melihat bagaimana Islam sangat menghormati hak-hak manusia, meskipun mereka adalah non-muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian dengan umat Islam -kafir mu’ahad- maka dia tidak akan mencium baunya surga.” (HR. Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan -sebagaimana dijelaskan para ulama- perintah untuk berbuat baik kepada tetangga, baik muslim atau bukan, orang taat ataupun ahli maksiat, karena kata ‘tetangga’ mencakup mereka semuanya. Bukan itu saja, bahkan Islam menilai perbuatan menyingkirkan gangguan dari jalan termasuk bagian dari iman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh cabang lebih, yang tertinggi adalah ucapan laa ilaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Tidak kita pungkiri bahwa memang ada sebagian umat Islam ini yang terpengaruh pemahaman Khawarij, yang dikatakan oleh para ulama bahwa mereka itu ‘beribadah kepada Allah hanya dengan rasa takut’ sehingga mereka menafikan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang janji dan ampunan karena bertumpu kepada ayat-ayat dan hadits-hadits yang berisi ancaman dan siksa. Oleh sebab itu mereka juga mengkafirkan para pelaku dosa besar. Dikatakan oleh para ulama, bahwa mereka ‘membunuhi umat islam namun justru membiarkan para pemuja berhala’. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah memperingatkan dengan keras tentang kesesatan mereka, sebagaimana bisa kita baca dalam hadits-hadits sahih. Meskipun demikian, menyandarkan penyimpangan mereka kepada Islam adalah kezaliman; karena Islam jelas-jelas berlepas diri dari kesesatan dan pemikiran mereka!

> Wahib juga mengatakan, “Dengan mengidentikkan al-Qur’an sebagai kalam Allah, justru kita telah menghina Allah, merendahkan Allah dan kehendak-kehendak-Nya…” (lihat Pembaharuan Tanpa Apologia, hal. 35)

Kita katakan, bahwa yang mengatakan al-Qur’an kalam Allah adalah Allah sendiri. Sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Dan apabila ada seorang musyrik yang meminta perlindungan kepadamu maka lindungilah ia, hingga ia bisa mendengar kalam Allah.” Dan demikianlah yang dipahami oleh generasi terbaik umat ini. Abdullah ibnu Abi Mulaikah menceritakan : Adalah Ikrimah bin Abu Jahal -semoga Allah meridhainya- apabila mengambil mushaf dan dia letakkan di depan wajahnya, maka beliau berkata, “Ini adalah Kitab Rabb-ku ‘azza wa jalla, dan kalam Rabb-ku ‘azza wa jalla.” (lihat Tadzkiratul Mu’tasi karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr hafizhahullah, hal. 204)

Apakah kita akan mengatakan, bahwa Allah ta’ala mengajak kita untuk menghina diri-Nya sendiri, merendahkan-Nya, dan merendahkan kehendak-Nya?! Maha Suci Allah… sungguh ini adalah kedustaan yang sangat besar…

> Wahib juga berkata, “Aku bukan nasionalis, bukan Katolik, bukan sosialis. Aku bukan Budha, bukan Protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut Muslim.” (lihat Pembaharuan Tanpa Apologia, hal. 58-59)

Kita katakan, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat nanti dia pasti akan termasuk kelompok orang-orang yang merugi.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar kenabianku, apakah dia Yahudi atau Nasrani, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan ajaranku, kecuali dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tiada sesembahan -yang hak- selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah jika kamu sanggup mengadakan perjalanan ke sana.” (HR. Muslim)

Para ulama kita juga menerangkan, hakikat islam itu adalah ‘berserah diri kepada Allah dengan bertauhid, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, dan berlepas diri dari syirik dan pelakunya’. Inilah Islam. Oleh sebab itu, ketika mengutus Mu’adz bin Jabal radhiyallahu’anhu untuk berdakwah di Yaman -yang di sana banyak ahli Kitab; Yahudi atau Nasrani- beliau pun berpesan, “Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah supaya mereka mentauhidkan Allah.” (HR. Bukhari dalam at-Tauhid)

Apakah dengan fakta-fakta ini kita akan mengatakan, bahwa di masa kini muslim adalah orang yang menganut selain ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah disebut muslim orang yang mencampuradukkan di dalam dirinya ideologi Sosialis, Komunis, Protestan, Budha, Katolik, dan Humanis?!

> Wahib juga berkata, “… dengan gerakan transformasi kita mengadakan perubahan tidak hanya dalam perubahan interpretasi kata-kata Arab seperti sahih dhaif dan sebagainya, tapi juga perubahan dalam menentukan sumber hukum yakni bukan cuma Qur’an dan Sunnah, tapi tak kalah pentingnya: kondisi sosial! Pada tiga sumber itu akal bekerja…” (lihat Pembaharuan Tanpa Apologia, hal. 66)

Kita katakan, marilah kita kembali membaca petunjuk Allah (yang artinya), “Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara apa saja kembalikanlah kepada Allah [al-Qur’an] dan rasul [as-Sunnah], jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Itulah yang terbaik dan paling bagus hasilnya.” (QS. An-Nisaa’ : 59)

Subhanallah! Maha Suci Allah, seperti inikah yang mereka sebut dengan kebebasan berpikir? Ketika manusia telah lancang menciptakan sumber hukum baru, yang mereka sebut dengan istilah ‘kondisi sosial’? Bukankah apa yang mereka lakukan itu menunjukkan bahwa -menurut logika mereka- Allah tidak memahami realitas sosial umat manusia dengan beraneka ragam zaman dan kondisi sosialnya?!

Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. Al-Ahzab : 36)

Oleh sebab itu para ulama kita mengatakan, “Dari Allah sumber risalah/Islam. Kewajiban atas Rasul untuk menyampaikan. Dan kewajiban kita adalah taslim/pasrah.”

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha : 123)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah menjamin bagi siapa pun yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya, bahwa dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.”

[al-mubarok.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *