Adab Penimba Ilmu Yang Terlupa [Penting!]

adab

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya :

أليس من آداب طالب العلم عدم الخوض فيما لا يعنيه خصوصا الدخول في المسائل الكبار التي تتعلق بالأمة؟

“Bukankah termasuk salah satu adab penimba ilmu yaitu untuk tidak terjun berbicara/turut campur dalam perkara-perkara yang tidak penting baginya terutama menerjuni persoalan-persoalan besar yang berkaitan dengan umat?”

Beliau menjawab :

من آداب طالب العلم كما ذكرنا أنه ما يبدأ مع فروع العلم ومع الخلاف بل يبدأ مع الأصول ومع الأبواب شيئا فشيئا هذا من آداب طالب العلم، وإذا اطلعت على الخلاف مثل أنت في مرحلة مثلكم أنتم تدرسون الآن المسائل الخلافية من باب تكميل المعلومات ومن باب معرفة الراجح من المرجوح وما عليه دليل وما ليس عليه دليل فهذا شيء ينفع بعد ما تبلغ هذه المرحلة مرحلة التخصص تطلع على الخلاف، ولكن ما تأخذ كل قول إنما تعرضه على الدليل فما وافق الدليل أخذت به وما خالف الدليل فإنك تتركه ولكن لا تتنقص العلماء إذا أخطئوا لا تتنقصهم اعرف لهم قدرهم وادعوا الله لهم، ولكن لا تأخذ بغيره إذا أخطأ عن غير قصد من أخطأ من غير قصد وهو من أهل الاجتهاد فله أجر على اجتهاده ويغفر له خطأه، خطأه مغفور فلا يحملك إذا رأيت رأي مرجوحا أو رأي مخالفا للدليل أن تتنقص صاحبه أو تتكلم فيه، نعم.

“Na’am [ya]. Salah satu adab penimba ilmu -sebagaimana telah kami sampaikan sebelumnya- ialah hendaknya dia tidak memulai langkahnya dengan mendalami cabang-cabang ilmu yang sering mengandung perselisihan. Akan tetapi semestinya dia memulai dengan menekuni masalah-masalah pokok/ushul dan berangkat dari pelajaran-pelajaran dasar pembuka, sedikit demi sedikit. Ini adalah salah satu adab penimba ilmu.”

“Apabila anda menelaah suatu perselisihan -yaitu orang seperti anda/penimba ilmu tingkat lanjut, pent- artinya orang itu berada pada tingkatan seperti kalian; dimana kalian sekarang mempelajari perkara-perkara khilafiyah dalam rangka menyempurnakan pengetahuan/informasi, dan hal itu adalah dalam rangka mengetahui pendapat yang lebih kuat/rajih dari pendapat yang lemah/marjuh. Mana yang dilandasi dalil dan mana yang tidak berdasarkan dalil.”

“Maka perkara semacam ini adalah bermanfaat; yaitu setelah anda mencapai tingkatan ini -tingkatan penimba ilmu yang khusus-. Dimana anda mampu mengkaji masalah khilaf/perselisihan itu. Akan tetapi itu bukan berarti anda bisa dengan seenaknya mengambil semua pendapat. Sebab anda harus mengujinya dengan dalil, jika ia sesuai dengan dalil ambillah. Namun apabila hal itu bertentangan dengan dalil tinggalkanlah.”

“Meskipun demikian, janganlah kalian menjelek-jelekkan ulama apabila mereka tergelincir/tidak sengaja salah. Jangan anda mendiskreditkan mereka; hormatilah kedudukan mereka. Berdoalah kepada Allah agar melimpahkan kebaikan untuk mereka. Akan tetapi janganlah kamu mengambil pendapatnya -di teks transkrip ada salah ketik, pent- ketika dia tersalah/keliru tanpa sengaja. Karena orang yang keliru karena tidak sengaja dan dirinya termasuk ahli ijtihad maka dia mendapatkan satu pahala atas ijtihadnya dan kesalahannya akan diampuni. Kekeliruannya akan diampuni.”

“Oleh sebab itu apabila anda melihat suatu pendapat yang marjuh/lemah atau menyelisihi dalil -dari sebagian ulama atau da’i, pent- janganlah hal itu serta-merta mendorong anda mendiskreditkan/menjelek-jelekkan orang yang berpegang dengannya atau anda bicarakan dia dengan nada negatif/merendahkan. Na’am.”

Sumber : http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14438

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *