Jalan-Jalan Keselamatan [8]

images_articles2012_3-tawheed_sirat

[8] Memohon Petunjuk Kepada Allah

Senantiasa memohon hidayah dan bimbingan Allah juga merupakan jalan menuju kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat.

Mutharrif bin Abdillah bin asy-Syikhkhir rahimahullah berkata, “Seandainya kebaikan ada di telapak tangan salah seorang dari kita. Niscaya dia tidak akan sanggup menuangkan kebaikan itu ke dalam hatinya kecuali apabila Allah ‘azza wa jalla yang menuangkannya ke dalam hatinya.” (lihat Aqwal Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman [1/131])

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah berkata, “Kebutuhan seorang muslim terhadap hidayah menuju jalan yang lurus lebih besar daripada kebutuhannya kepada makanan dan minuman. Sebab makanan dan minuman adalah bekal untuknya dalam kehidupan dunia, sedangkan hidayah jalan yang lurus adalah bekalnya untuk negeri akherat. Oleh sebab itulah terdapat doa untuk memohon hidayah menuju jalan yang lurus ini di dalam surat al-Fatihah yang ia wajib untuk dibaca dalam setiap raka’at sholat; baik sholat wajib maupun sholat sunnah.” (lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 114)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Firman-Nya [yang artinya] “Tunjukilah kami jalan yang lurus” di dalamnya terkandung keterangan bahwa seorang hamba tidaklah memiliki jalan untuk menggapai kebahagiaan dirinya kecuali dengan istiqomah meniti jalan yang lurus itu. Dan tidak ada baginya jalan untuk istiqomah kecuali dengan hidayah dari-Nya kepada dirinya. Sebagaimana tidak ada jalan untuk beribadah kepada-Nya kecuali dengan pertolongan dari-Nya, maka demikian pula tidak ada jalan baginya untuk istiqomah di atas jalan yang benar kecuali dengan hidayah dari-Nya.” (lihat al-Fawa’id, hal. 40)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya dia tidak akan sesat dan tidak pula celaka.” (QS. Thaha: 123)

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah memberikan jaminan kepada siapa saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang terkandung di dalamnya, bahwa dia tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat.” Kemudian beliau membaca ayat di atas (lihat Syarh al-Manzhumah al-Mimiyah karya Syaikh Abdurrazzaq al-Badr, hal. 49). 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *