Jalan-Jalan Keselamatan [2]

اسعار الذهب اليوم

[2] Lebih Mengutamakan Akhirat

Diantara jalan keselamatan adalah dengan mengejar keutamaan akhirat yang abadi dan tidak lebih mengutamakan kesenangan dunia yang fana.

‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu’anhu berkata di dalam khutbahnya di hadapan penduduk Mesir, “Sungguh betapa jauhnya jalan dan gaya hidup kalian dengan jalan dan gaya hidup Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun beliau, maka beliau adalah orang yang paling zuhud dalam urusan dunia, sedangkan kalian adalah orang-orang yang paling gandrung kepadanya.” (lihat Fawa’id Abi Muhammad al-Fakihi, hal. 127)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Kalian sekarang ini lebih banyak sholat dan lebih keras dalam beribadah daripada para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun demikian mereka lebih utama daripada kalian.” Mereka bertanya, “Mengapa?”. Beliau menjawab, “Sebab mereka lebih zuhud dalam hal dunia daripada kalian dan jauh lebih berhasrat dalam urusan akhirat.” (lihat az-Zuhd oleh al-Qurthubi, hal. 39)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu berkata, “Jadilah kalian anak-anak akherat, dan jangan menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah amal dan belum ada hisab, sedangkan besok yang ada adalah hisab dan tidak ada lagi waktu untuk beramal.” (lihat Shahih Bukhari cet. Maktabah al-Iman hal. 1307)

Abu Sulaiman ad-Darani rahimahullah berkata, “Dunia akan mencari orang yang berusaha lari meninggalkannya. Apabila dunia berhasil meraihnya niscaya ia akan melukainya. Dan seandainya pencari dunia berhasil meraihnya [dunia] niscaya dunia akan membinasakan dirinya.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 338)

Bisyr bin al-Harits rahimahullah berkata, “Katakanlah kepada orang yang suka mengejar-ngejar dunia: Bersiaplah kamu untuk merasakan kehinaan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliya’, hal. 339)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Zuhud yang disyari’atkan itu adalah; dengan meninggalkan perkara-perkara yang tidak mendatangkan manfaat kelak di negeri akhirat dan kepercayaan yang kuat tertanam di dalam hati mengenai balasan dan keutamaan yang ada di sisi Allah… Adapun secara lahiriyah, segala hal yang digunakan oleh seorang hamba untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, maka meninggalkan itu semua bukan termasuk zuhud yang disyari’atkan. Akan tetapi yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan sikap berlebihan dalam perkara-perkara yang menyibukkan sehingga melalaikan dari ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya, berupa makanan, pakaian, harta, dan lain sebagainya…” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimyah, hal. 69-70)

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah orang yang zuhud kepada dunia dan sangat memburu akhirat. Orang yang paham tentang agamanya dan senantiasa beribadah kepada Rabbnya. Orang yang berhati-hati sehingga menahan diri dari menodai kehormatan dan harga diri kaum muslimin. Orang yang menjaga kehormatan dirinya dari meminta harta mereka dan senantiasa mengharapkan kebaikan bagi mereka.” (lihat Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 28)

‘Ali bin al-Husain rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang merasa cukup [qona’ah] dengan apa yang dibagikan Allah untuknya maka dia adalah orang yang paling berkecukupan.” (lihat at-Tahdzib al-Maudhu’i li Hilyat al-Auliyaa’, hal. 662)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *